Halaman

Sabtu, 13 April 2019

ARTIKEL PENDIDIKAN

                                                            

                                         BALON HITAM DAN ISINYA

                                                        Oleh: Khalida Agustina



       Lewat sebuah acara pengajian jam 5 pagi yang rutin penulis ikuti oleh radio MQ FM Bandung yang disiar langsungkan (direlay) oleh radio Delta FM, ada sebuah kisah yang patut untuk kita simak yang mungkin dapat dijadikan sebagai sebuah pengajaran ataupun renungan. Ringkasannya adalah sebagai berikut:
Alkisah ada seorang anak yang sedang  mengamati seorang penjual balon yang ramai dikelilingi anak-anak lainnya yang antri menunggu balon pesanannya. Setelah semua balon habis terjual dan anak-anak telah sepi barulah anak tersebut berani mendekati sang penjual balon. Anak tersebut bertanya pada sang bapak penjual balon apakah balon yang berwarna hitam bisa terbang? Karena dari seluruh warna balon gas yang dijual tidak ada yang berwarna hitam. Penjual balon berkata, balon bisa terbang bukan karena warnanya, tapi karena isinya atau gas yang dipompakan kedalam balon. Mendengar jawaban itu anak tersebut berlari pulang dengan senangnya.
Tiga puluh tahun kemudian disebuah negara di Afrika ada seorang hakim kulit hitam yang terkenal dan sangat disegani. Dialah sang anak tersebut. Yang termotivasi oleh perkataan penjual balon bahwa isi pada diri kitalah yang dapat menentukan mutu diri kita. Kita dapat terbang ke angkasa karena isi yang kita miliki. Adapun isi yang harus ada pada diri kita adalah :

1. Ilmu
            Islam mewajibkan kaum muslimin dan muslimat menuntut ilmu sejak dari buaian sampai keliang lahat, karena orang yang berilmu di masyarakat menduduki derajat yang tinggi dibandingkan yang tidak berilmu. Seperti yang dikatakan dalam Alqur’an (Almujadilah :11) yang artinya “ …. Allah meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
            Yang paling perlu disadari dalam menuntut ilmu adalah meluruskan niat demi menghilangkan kebodohan dan mencari ridho Allah. Bukan semata untuk mencari ijazah, menjadi pegawai negeri, mengejar gelar dan titel, apalagi mengharapkan kehormatan agar orang menundukkan kepala ataupun agar menjadi populer dan sebagainya.
            Setiap kesempatan kita bisa mengisi diri kita dengan ilmu. Banyak sekali lahan yang bisa kita jadikan sebagai ladang ilmu. Lewat perjumpaan dengan siapa saja dalam pergaulan sehari-hari kita bisa memperoleh ilmu. Asal saja kita mau merendahkan diri, artinya tidak merasa lebih hebat dari orang yang kita temui. Seperti teko yang akan menuangkan isinya maka benda yang hendak dituangi haruslah lebih rendah dari teko agar isi dari teko dapat masuk dalam wadah. Apakah isi teko tersebut berupa susu, kopi, teh dan sebagainya seperti itulah perumpamaan ilmu yang akan kita peroleh.
            Cara lain untuk mendapatkan ilmu, dapat dengan menjalani studi formal,mengikuti kursus dan pelatihan, nyantri di pesantren, membaca buku, membentuk forum studi,diskusi, serta mengikuti acara-acara kajian ilmiah. Selama kita punya niat tulus memperoleh ilmu yang bermanfaat, Allah akan membukakan pintu-pintu ilmuNya pada kita.
            Tentu saja menuntut ilmu sebagaimana dimaksud adalah ilmu yang dapat menjembatani manusia memperoleh kebahagiaan dunia akhirat. Dan bukanlah ilmu yang menjadi faktor kehancuran ummat.
            Sungguh sangat penting dan mulia kedudukan ilmu yang bermanfaat. Segala sesuatu yang tidak disertai dengannya bisa membawa kerusakan, besar atau kecil. Harta benda ditangan orang yang kaya tapi miskin ilmu, tidak akan lama umurnya. Tapi ilmu yang dimiliki orang miskin kelak akan membantu mereka mengatasi kesulitan. Dengan ilmu itu mereka jadi tau sebab-sebab kemiskinannya, yang sekaligus juga tau jalan untuk keluar dari kesempitan tersebut.
            Mengenai persoalan kemudahan dan kesulitan dalam kehidupan, dengan adanya ilmu akan sangat membantu seseorang untuk keluar dari kesulitan. Seseorang tidak pernah akan tau kapan kesulitan akan datang. Tapi dengan adanya bekal pengetahuan yang cukup setidaknya punya penawar untuk kesulitan tersebut.
            Jika menginginkan kemudahan, maka letakkanlah dasar ilmu pengetahuan sebagai pilar bangunan hidup kita. Insya Allah jika akrab dengan ilmu pengetahuan akan dimudahkan dalam segala urusan. Seperti yang dikatakan Rasulullah Saw dalam sabdanya, yang artinya :
“ Dan siapa menempuh suatu jalan yang padanya dia dapatkan ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
           
2. Akhlak yang mulia 

Ilmu yang tinggi tanpa disertai akhlak yang mulia adalah kesia-siaan. Kuat atau lemahnya iman seseorang dapat diukur dan diketahui dari perilaku dan akhlaknya. Allah Swt, dalam firmannya dalam Al Qur’an banyak menyeru manusia untuk berbuat baik dan melarang berbuat jahat, sebagai tuntunan iman dan taqwa kepadanya. “ Hai oarang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (At Taubah : 119).
Pribadi dan akhlak yang patut diteladani adalah pribadi Rasulullah. Padanya terdapat kesempurnaan akhlak yan mulia. Lemah lembut, sopan santun dan sayang pada sesama, serta pentingnya untuk selalu menjaga rasa malu. Rasulullah bersabda :
“ Rasa malu dan iman itu sebenarnya terpadu menjadi satu, maka bilamana lenyap salah satunya hilang pulalah yang lainnya.” Dalam hadis lainnya dikatakan :
 “ Malu adalah sebagian dari pada iman”.
Dengan demikian betapa pentingnya akhlak mulia dimiliki setiap orang sehingga bisa mengisi pribadi dari setiap jiwa yang mulia.

3.Kemauan mengeratkan silahturrahmi

            Rasulullah saw. menyampaikan bahwa silaturrahmi atau menyambung persaudaraan itu dapat membuahkan rizki dan memanjangkan umur (dipanjangkan bekasnya). Sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya :
“ Barang siapa yang senang untuk dilapangkan  rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah bersilaturrahmi.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Silahturrahmi dapat melapangkan rizki, karena silahturrahmi itu dapat mengeratkan hubungan atau persaudaraan antara seorang dengan orang yang lain.Eratnya hubungan ini dapat menimbulkan kasih sayang di antara mereka sehingga mereka mau memberi pertolongan dalam usaha dibidang materiil yang membuahkan keuntungan-keuntungan sehingga rizkinya menjadi bertambah lapang. Silaturrahmi termasuk perilaku orang yang taqwa, sehingga orang yang taqwa sudah dijanjikan  oleh Allah akan diberi rizki dan kemudahan, sebagaimana firman-Nya yang artinya :
“ Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluarnya. Dan memberi rizki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (Ath Thalaq : 2 – 3)
Demikianlah pentingnya silaturrahmi, semoga ada manfaatnya.

4. Kemampuan memanfaatkan setiap kesempatan

            Seperti yang dikatakan orang bijak kesempatan itu tidak datang dua kali. Bahwa setiap detik dari kehidupan kita bisa dijadikan ladang amal yang tiada berbatas. Melihat sampah, lalu kita pungut dan dibuang, bersedekah dan sebagainya walaupun hal kecil dapat menjadikan kita mempunyai kesempatan untuk beribadah.
            Mempunyai prinsip bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin sehingga kita menjadi orang yang lebih beruntung. Kiat paling umum untuk bisa meraih kesuksesan adalah bekerja secara maksimal. Kita dapat mengerahkan segala kiat untuk dapat mengatasi masala-masalah yang ada dihadapan kita. Karena jika tidak banyak masalah yang akan menumpuk. Padahal waktu, energi dan kekuatan kita semakin lama semakin  berkurang. Hal ini bisa membuat stres, tertekan dan sejenisnya.
            Abdullah bin Umar pernah berkata :
“ Jika engkau ada di pagi hari, jangan mengharap akan sampai di sore hari, dan jika engkau di sore hari, jangan mengharap akan sampai di pagi hari.Gunakan masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, dan gunakan masa hidupmu sebelum datang matimu.” (H.R. Bukhari).
            Nasehat bijak tersebut menuntun kita agar maksimal dalam menggunakan hari-hari kita. Semampu mungkin apa yang bisa kita kerjakan jangan tunda sampai esok. Waktu terus berjalan, perubahan demi perubahan terus terjadi. Kita tidak pernah tau nasip apa yang akan terjadi besok. Masihkah diberi jatah hidup? Wallahu a’lam. Yang jelas sebagai mukmin kita harus selalu siaga seperti nasehat Abdullah bin Umar tersebut.

5. Kekuatan Ibadah Dan Doa’.

            Ilmu telah dimiliki, dibarengi pula dengan akhlak yang mulia,selalu bekerja keras tidak kenal putus asa, punya banyak sahabat, masih tersisa satu ikhtiar lagi mengisi diri dan kepribadian yang tak boleh dilupakan, yaitu tekun beribadah dan berdoa’ kepada Allah. “ Lahaulawalaa quwwata illaa billaah.” Tiada daya dan upaya melainkan dengan kuasa Allah.
            Ibadah dan doa’ adalah sarana dan fasilitas yang yang disediakan Allah agar dapat kita manfaatkan untuk menghadapi masalah dalam bentuk apapun. Sekuat apapun ikhtiar kita dan sebesar apapun bantuan yang diberikan orang lain pada kita tanpa disandarkan pada kekuasaan Allah hanya akan berakhir dengan kesia-siaan. Ketika suatu waktu apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan kita akan kecewa dan tidak tau harus berbuat apa lagi walaupun semua pintu ikhtiar telah kita tempuh. Berbeda jika kita berikhtiar disertai dengan doa’. Insya Allah kita akan memperoleh hasil-hasil yang baik dari usaha-usaha itu.
            Dan seandainyapun hasil yang kita harapkan tidak maksimal, insya Allah kita diberi kekuatan untuk menerimanya dengan ikhlas. Bukankah kita telah berusaha sekuat tenaga disertaidengan doa’? Jika hasilnya tidak sesuai kehendak, mungkin Allah ingin menakdirkan sesuatu yang lain untuk kita, yang menurut ilmu Allah itu baik buat kita. Sehingga kita bisa mengambil hikmah dari suatu peristiwa. Sulit menanamkan hal ini dalam pikiran dan jiwa jika kita tidak berbaik sangka kepada Allah. Dan menyerahkan semua total dan bulat hanya kepada Allah.
            Ketika kita dihadapkan pada suatu kondisi berupa kesulitan, kekurangan, kelemahan atau bermacam keadaan yang kurang menguntungkan, Allah melarang kita mengambil sikap iri hati atas kebaikan dan kelebihan yang dimiliki orang lain. Perhatikan kandungan ayat berikut ini :
“ Dan janganlah kalian iri hati terhadap apa yang Allah lebihkan sebagian kalian lebih dari sebagian lainnya. Dan bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan bagi perempuan ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mintalah kepada Allah dari sebagian karunia-Nya. Sesungguhnya Allah atas segala sesuatu Maha Mengetahui.” (Q.S. Annisa : 32).
            Perlu juga untuk diingat bahwa ukuran dari “kesuksesan” adalah bukan harta yang banyak dan pangkat yang tinggi. Kesenangan dan kesedihan hanyalah sebuah ujian dari Allah. Jika diberi ujian kesedihan dan kemalangan kita diharuskan sabar dan tawakkal. Jika diberi kesenangan, itu hanyalah sebuah titipan, kita diwajibkan untuk selalu mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan. Karena suatu waktu Allah bisa mengambil apa saja yang telah dititipkan pada kita. Jadi, ukuran dari sebuah “kesuksesan” adalah, apakah diri kita apabila diberi ujian kesedihan dan kesenangan semakin mampu mendekatkan diri kepada Allah.
            Tanpa bermaksud menyerdehanakan masalah bahwa beratnya proses yang dilalui orang-orang itu terjadi karena mereka tidak gemar beribadah dan berdoa’, yang jelas dalam  tuntunan islam, tidak ditemui adanya ajaran bahwa untuk meraih sukses seseorang boleh menggunakan cara yang licik, menganiaya diri, menjual kehormatan bahkan menukar keimanan dengan kegelapan.
            Berkaitan dengan pengabulan doa’ untuk meraih kesuksesan Allah berjanji akan mengabulkan setiap doa’ dari hambanya, sebagaimana dalam firman-Nya, yang artinya :
“ Berdoa’lah kalian kepada-Ku, niscaya Aku penuhi doa’ kalian.” (Q.S. Fathir :60).
Tentu saja kapan Allah akan mengabulkan doa’ tersebut merupakan rahasia Allah, ada yang langsung dan ada yang waktunya ditangguhkan, yang hanya Allah saja yang tau.
           
         Sangatlah menarik ajakan Allah pada hamba-Nya agar mereka selalu gemar berdoa’ kepada-Nya : “ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya padamu tentang-Ku, maka (katakanlah);’Sesungguhnya Aku ini dekat. Aku kabulkan doa’ orang yang berdoa’ kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (seruan-seruan)-Ku, dan hendaklah mereka mengimani-Ku, agar dengan semua itu mereka senantiasa dalam petunjuk.” (Q.S. Al-Baqarah : 186).
Mudah-mudahan Allah membimbing kita menjadi Hamba-Nya yang ahli dalam ibadah dan doa’: bersemangat, terus menerus dan selalu bersungguh-sungguh. Semoga dengan itu Allah mudahkan semua urusan kita dan selalu dalam lindungan dan berkah-Nya. Amin.( Penulis adalah guru MTs N 3 Medan)
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERANAN GURU TERHADAP ISU LINGKUNGAN MELALUI   PEMBELAJARAN DI MADRASAH Oleh : Dra. Khalida Agustina, M.Pd ...