BALON HITAM DAN ISINYA
Oleh: Khalida Agustina
Lewat
sebuah acara pengajian jam 5 pagi yang rutin penulis ikuti oleh radio MQ FM
Bandung yang disiar langsungkan (direlay) oleh radio Delta FM, ada sebuah kisah
yang patut untuk kita simak yang mungkin dapat dijadikan sebagai sebuah
pengajaran ataupun renungan. Ringkasannya adalah sebagai berikut:
Alkisah ada seorang anak yang sedang
mengamati seorang penjual balon yang ramai dikelilingi anak-anak lainnya
yang antri menunggu balon pesanannya. Setelah semua balon habis terjual dan
anak-anak telah sepi barulah anak tersebut berani mendekati sang penjual balon.
Anak tersebut bertanya pada sang bapak penjual balon apakah balon yang berwarna
hitam bisa terbang? Karena dari seluruh warna balon gas yang dijual tidak ada
yang berwarna hitam. Penjual balon berkata, balon bisa terbang bukan karena
warnanya, tapi karena isinya atau gas yang dipompakan kedalam balon. Mendengar
jawaban itu anak tersebut berlari pulang dengan senangnya.
Tiga puluh tahun kemudian disebuah negara di Afrika ada seorang
hakim kulit hitam yang terkenal dan sangat disegani. Dialah sang anak tersebut.
Yang termotivasi oleh perkataan penjual balon bahwa isi pada diri kitalah yang
dapat menentukan mutu diri kita. Kita dapat terbang ke angkasa karena isi yang
kita miliki. Adapun isi yang harus ada pada diri kita adalah :
1. Ilmu
Islam mewajibkan kaum muslimin dan
muslimat menuntut ilmu sejak dari buaian sampai keliang lahat, karena orang
yang berilmu di masyarakat menduduki derajat yang tinggi dibandingkan yang
tidak berilmu. Seperti yang dikatakan dalam Alqur’an (Almujadilah :11) yang
artinya “ …. Allah meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui
apa yang kamu kerjakan.”
Yang paling perlu disadari dalam
menuntut ilmu adalah meluruskan niat demi menghilangkan kebodohan dan mencari
ridho Allah. Bukan semata untuk mencari ijazah, menjadi pegawai negeri,
mengejar gelar dan titel, apalagi mengharapkan kehormatan agar orang
menundukkan kepala ataupun agar menjadi populer dan sebagainya.
Setiap kesempatan kita bisa mengisi
diri kita dengan ilmu. Banyak sekali lahan yang bisa kita jadikan sebagai ladang
ilmu. Lewat perjumpaan dengan siapa saja dalam pergaulan sehari-hari kita bisa
memperoleh ilmu. Asal saja kita mau merendahkan diri, artinya tidak merasa
lebih hebat dari orang yang kita temui. Seperti teko yang akan menuangkan
isinya maka benda yang hendak dituangi haruslah lebih rendah dari teko agar isi
dari teko dapat masuk dalam wadah. Apakah isi teko tersebut berupa susu, kopi,
teh dan sebagainya seperti itulah perumpamaan ilmu yang akan kita peroleh.
Cara lain untuk mendapatkan ilmu,
dapat dengan menjalani studi formal,mengikuti kursus dan pelatihan, nyantri di
pesantren, membaca buku, membentuk forum studi,diskusi, serta mengikuti
acara-acara kajian ilmiah. Selama kita punya niat tulus memperoleh ilmu yang
bermanfaat, Allah akan membukakan pintu-pintu ilmuNya pada kita.
Tentu saja menuntut ilmu sebagaimana
dimaksud adalah ilmu yang dapat menjembatani manusia memperoleh kebahagiaan
dunia akhirat. Dan bukanlah ilmu yang menjadi faktor kehancuran ummat.
Sungguh sangat penting dan mulia
kedudukan ilmu yang bermanfaat. Segala sesuatu yang tidak disertai dengannya
bisa membawa kerusakan, besar atau kecil. Harta benda ditangan orang yang kaya
tapi miskin ilmu, tidak akan lama umurnya. Tapi ilmu yang dimiliki orang miskin
kelak akan membantu mereka mengatasi kesulitan. Dengan ilmu itu mereka jadi tau
sebab-sebab kemiskinannya, yang sekaligus juga tau jalan untuk keluar dari
kesempitan tersebut.
Mengenai persoalan kemudahan dan
kesulitan dalam kehidupan, dengan adanya ilmu akan sangat membantu seseorang
untuk keluar dari kesulitan. Seseorang tidak pernah akan tau kapan kesulitan
akan datang. Tapi dengan adanya bekal pengetahuan yang cukup setidaknya punya
penawar untuk kesulitan tersebut.
Jika menginginkan kemudahan, maka
letakkanlah dasar ilmu pengetahuan sebagai pilar bangunan hidup kita. Insya
Allah jika akrab dengan ilmu pengetahuan akan dimudahkan dalam segala urusan.
Seperti yang dikatakan Rasulullah Saw dalam sabdanya, yang artinya :
“ Dan siapa menempuh suatu jalan yang padanya dia dapatkan ilmu,
maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
2. Akhlak
yang mulia
Ilmu yang tinggi tanpa disertai akhlak yang mulia adalah
kesia-siaan. Kuat atau lemahnya iman seseorang dapat diukur dan diketahui dari
perilaku dan akhlaknya. Allah Swt, dalam firmannya dalam Al Qur’an banyak
menyeru manusia untuk berbuat baik dan melarang berbuat jahat, sebagai tuntunan
iman dan taqwa kepadanya. “ Hai oarang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada
Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (At Taubah : 119).
Pribadi dan akhlak yang patut diteladani adalah pribadi Rasulullah.
Padanya terdapat kesempurnaan akhlak yan mulia. Lemah lembut, sopan santun dan
sayang pada sesama, serta pentingnya untuk selalu menjaga rasa malu. Rasulullah
bersabda :
“ Rasa malu dan iman itu sebenarnya terpadu menjadi satu, maka
bilamana lenyap salah satunya hilang pulalah yang lainnya.” Dalam hadis lainnya
dikatakan :
“ Malu adalah sebagian dari
pada iman”.
Dengan demikian betapa pentingnya akhlak mulia dimiliki setiap orang
sehingga bisa mengisi pribadi dari setiap jiwa yang mulia.
3.Kemauan mengeratkan silahturrahmi
Rasulullah saw. menyampaikan bahwa
silaturrahmi atau menyambung persaudaraan itu dapat membuahkan rizki dan
memanjangkan umur (dipanjangkan bekasnya). Sebagaimana sabda Rasulullah yang
artinya :
“ Barang siapa
yang senang untuk dilapangkan rizkinya
dan dipanjangkan umurnya hendaklah bersilaturrahmi.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Silahturrahmi dapat melapangkan rizki, karena silahturrahmi itu
dapat mengeratkan hubungan atau persaudaraan antara seorang dengan orang yang
lain.Eratnya hubungan ini dapat menimbulkan kasih sayang di antara mereka
sehingga mereka mau memberi pertolongan dalam usaha dibidang materiil yang
membuahkan keuntungan-keuntungan sehingga rizkinya menjadi bertambah lapang.
Silaturrahmi termasuk perilaku orang yang taqwa, sehingga orang yang taqwa
sudah dijanjikan oleh Allah akan diberi
rizki dan kemudahan, sebagaimana firman-Nya yang artinya :
“ Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan
mengadakan baginya jalan keluarnya. Dan memberi rizki dari arah yang tiada
disangka-sangka.” (Ath Thalaq : 2 – 3)
Demikianlah pentingnya silaturrahmi, semoga ada manfaatnya.
4. Kemampuan
memanfaatkan setiap kesempatan
Seperti yang dikatakan orang bijak
kesempatan itu tidak datang dua kali. Bahwa setiap detik dari kehidupan kita
bisa dijadikan ladang amal yang tiada berbatas. Melihat sampah, lalu kita
pungut dan dibuang, bersedekah dan sebagainya walaupun hal kecil dapat
menjadikan kita mempunyai kesempatan untuk beribadah.
Mempunyai prinsip bahwa hari ini
harus lebih baik dari hari kemarin sehingga kita menjadi orang yang lebih
beruntung. Kiat paling umum untuk bisa meraih kesuksesan adalah bekerja secara
maksimal. Kita dapat mengerahkan segala kiat untuk dapat mengatasi
masala-masalah yang ada dihadapan kita. Karena jika tidak banyak masalah yang
akan menumpuk. Padahal waktu, energi dan kekuatan kita semakin lama
semakin berkurang. Hal ini bisa membuat
stres, tertekan dan sejenisnya.
Abdullah bin Umar pernah berkata :
“ Jika engkau
ada di pagi hari, jangan mengharap akan sampai di sore hari, dan jika engkau di
sore hari, jangan mengharap akan sampai di pagi hari.Gunakan masa sehatmu
sebelum datang masa sakitmu, dan gunakan masa hidupmu sebelum datang matimu.”
(H.R. Bukhari).
Nasehat bijak tersebut menuntun kita
agar maksimal dalam menggunakan hari-hari kita. Semampu mungkin apa yang bisa
kita kerjakan jangan tunda sampai esok. Waktu terus berjalan, perubahan demi
perubahan terus terjadi. Kita tidak pernah tau nasip apa yang akan terjadi
besok. Masihkah diberi jatah hidup? Wallahu a’lam. Yang jelas sebagai mukmin
kita harus selalu siaga seperti nasehat Abdullah bin Umar tersebut.
5. Kekuatan
Ibadah Dan Doa’.
Ilmu telah dimiliki, dibarengi pula
dengan akhlak yang mulia,selalu bekerja keras tidak kenal putus asa, punya
banyak sahabat, masih tersisa satu ikhtiar lagi mengisi diri dan kepribadian
yang tak boleh dilupakan, yaitu tekun beribadah dan berdoa’ kepada Allah. “
Lahaulawalaa quwwata illaa billaah.” Tiada daya dan upaya melainkan dengan
kuasa Allah.
Ibadah dan doa’ adalah sarana dan
fasilitas yang yang disediakan Allah agar dapat kita manfaatkan untuk
menghadapi masalah dalam bentuk apapun. Sekuat apapun ikhtiar kita dan sebesar
apapun bantuan yang diberikan orang lain pada kita tanpa disandarkan pada
kekuasaan Allah hanya akan berakhir dengan kesia-siaan. Ketika suatu waktu apa
yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan kita akan kecewa dan tidak tau
harus berbuat apa lagi walaupun semua pintu ikhtiar telah kita tempuh. Berbeda
jika kita berikhtiar disertai dengan doa’. Insya Allah kita akan memperoleh
hasil-hasil yang baik dari usaha-usaha itu.
Dan seandainyapun hasil yang kita
harapkan tidak maksimal, insya Allah kita diberi kekuatan untuk menerimanya
dengan ikhlas. Bukankah kita telah berusaha sekuat tenaga disertaidengan doa’?
Jika hasilnya tidak sesuai kehendak, mungkin Allah ingin menakdirkan sesuatu
yang lain untuk kita, yang menurut ilmu Allah itu baik buat kita. Sehingga kita
bisa mengambil hikmah dari suatu peristiwa. Sulit menanamkan hal ini dalam
pikiran dan jiwa jika kita tidak berbaik sangka kepada Allah. Dan menyerahkan
semua total dan bulat hanya kepada Allah.
Ketika kita dihadapkan pada suatu
kondisi berupa kesulitan, kekurangan, kelemahan atau bermacam keadaan yang
kurang menguntungkan, Allah melarang kita mengambil sikap iri hati atas
kebaikan dan kelebihan yang dimiliki orang lain. Perhatikan kandungan ayat
berikut ini :
“ Dan janganlah
kalian iri hati terhadap apa yang Allah lebihkan sebagian kalian lebih dari
sebagian lainnya. Dan bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan.
Dan bagi perempuan ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mintalah kepada
Allah dari sebagian karunia-Nya. Sesungguhnya Allah atas segala sesuatu Maha
Mengetahui.” (Q.S. Annisa : 32).
Perlu juga untuk diingat bahwa
ukuran dari “kesuksesan” adalah bukan harta yang banyak dan pangkat yang
tinggi. Kesenangan dan kesedihan hanyalah sebuah ujian dari Allah. Jika diberi
ujian kesedihan dan kemalangan kita diharuskan sabar dan tawakkal. Jika diberi
kesenangan, itu hanyalah sebuah titipan, kita diwajibkan untuk selalu
mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan. Karena suatu waktu Allah bisa
mengambil apa saja yang telah dititipkan pada kita. Jadi, ukuran dari sebuah
“kesuksesan” adalah, apakah diri kita apabila diberi ujian kesedihan dan
kesenangan semakin mampu mendekatkan diri kepada Allah.
Tanpa bermaksud menyerdehanakan
masalah bahwa beratnya proses yang dilalui orang-orang itu terjadi karena
mereka tidak gemar beribadah dan berdoa’, yang jelas dalam tuntunan islam, tidak ditemui adanya ajaran
bahwa untuk meraih sukses seseorang boleh menggunakan cara yang licik,
menganiaya diri, menjual kehormatan bahkan menukar keimanan dengan kegelapan.
Berkaitan dengan pengabulan doa’
untuk meraih kesuksesan Allah berjanji akan mengabulkan setiap doa’ dari
hambanya, sebagaimana dalam firman-Nya, yang artinya :
“ Berdoa’lah
kalian kepada-Ku, niscaya Aku penuhi doa’ kalian.” (Q.S. Fathir :60).
Tentu saja kapan
Allah akan mengabulkan doa’ tersebut merupakan rahasia Allah, ada yang langsung
dan ada yang waktunya ditangguhkan, yang hanya Allah saja yang tau.
Sangatlah menarik ajakan Allah
pada hamba-Nya agar mereka selalu gemar berdoa’ kepada-Nya : “ Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya padamu tentang-Ku, maka (katakanlah);’Sesungguhnya Aku
ini dekat. Aku kabulkan doa’ orang yang berdoa’ kepada-Ku. Maka hendaklah
mereka itu memenuhi (seruan-seruan)-Ku, dan hendaklah mereka mengimani-Ku, agar
dengan semua itu mereka senantiasa dalam petunjuk.” (Q.S. Al-Baqarah : 186).
Mudah-mudahan Allah membimbing kita menjadi Hamba-Nya yang ahli
dalam ibadah dan doa’: bersemangat, terus menerus dan selalu
bersungguh-sungguh. Semoga dengan itu Allah mudahkan semua urusan kita dan
selalu dalam lindungan dan berkah-Nya. Amin.( Penulis adalah guru MTs N 3 Medan )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar