PERANAN
GURU TERHADAP ISU LINGKUNGAN MELALUI
PEMBELAJARAN DI MADRASAH
Oleh : Dra. Khalida Agustina, M.Pd
Isu tentang lingkungan (Lingkungan Hidup) terutama
kerusakannya sudah mendunia. Artinya selalu dibicarakan atau menjadi topik
pembicaraan. Tetapi yang paling dominan dalam menyuarakan lingkungan, terutama
tentunya adalah para pakar lingkungan, pemerintah yang yang membidangi
lingkungan, LSM, masyarakat peduli lingkungan dan lain sebagainya. Tentu saja
dalam hal ini isu lingkungan tersebut termasuk usaha dalam memelihara, mencegah
dan memperbaiki kerusakannya. Lalu dimana peran guru? Yang seyogianya merupakan
ujung tombak pendidikan. Bukankah akan sangat efektif mengembangkan karakter
tentang lingkungan melalui pendidikan?
A.
Pendahuluan
Penulis
menggunakan kata “ isu lingkungan” pengganti kata lingkungan hidup agar
menambah ketertarikan saja. Biasanya kalau kata “isu” di lihat atau didengar
dapat menjadi magnet penarik, setidaknya dapat lirikan sedikitlah untuk tulisan
ini terutama rekan-rekan guru pembaca majalah Pembina.
Peduli
lingkungan hidup bagi guru bukanlah sekedar ikut-ikutan. Guru sebagai pendidik
punya peran yang sangat efektif dalam menyuarakan tentang lingkungan. Selama
ini mungkin guru terlibat dalam masalah isu lingkungan hanya sebatas pembaca
atau pendengar melalui bacaan atau tontonan dimedia atau mengikuti
seminar-seminar yang membahas tentang lingkungan. Sekarang sudah saatnya guru
melangkah sedikit untuk berperan lebih aktif melalui action dalam pembelajaran terutama dilingkungan Madrasah.
Guru Madrasah apapun jenis mata pelajarannya dapat
menerapkan pendidikan lingkungan pada pembelaran ketika berinteraksi dengan
siswa. Apalagi Pendidikan karakter yang wajib diterapkan dalam pembelajaran
sangat mendukung hal ini, karena karakter tentang lingkungan menjadi bagian
dalam pengembangan karakter siswa. Hanya saja perlu diingat, bahwa guru dalam
membina karakter lingkungan siswa, harus bertindak sebagai model dalam
karakter. Dari ujung
kaki ke rambut, tutur kata, sikap, dan perbuatan
guru harus merupakan cerminan dari nilai-nilai karakter yang hendak
ditanamkannya.Seperti yang dikatakan Hamalik, O, (2001) bahwa
mentransfer pengetahuan pada siswa mungkin mudah, tetapi membina siswa agar
menjadi manusia berwatak (berkarakter) bukanlah hal yang mudah. Guru harus
punya komitmen yang kuat betapa pentingnya masalah lingkungan bagi kehidupan.
Guru juga perlu mempunyai pengetahuan yang memadai tentang isu lingkungan yang
selalu Up To Date. Mengembangkan karakter lingkungan pada
siswa tidak perlu yang terlalu rumit.
Dengan tindakan kecil yang menjadi kebiasaan sehari-hari tapi rutin dapat
menyumbang pencegahan kerusakan lingkungan. Dan yang yang lebih penting lagi
guru selalu ikhlas dalam mendidik dan membina siswanya, tidak dengan paksaan
atau marah-marah. Karena bagaimanapun mengubah karakter tidak semudah membalik
telapak tangan, tapi harus terus menerus sehingga diharapkan dapat menjadi
kebiasan yang baik.
- B. Ragam
Isu Lingkungan
Karakter
lingkungan yang ingin dikembangkan pada siswa tentunya harus bertolak dari isu
lingkungan yang sering dibicarakan seperti Global
Warming, Effek rumah kaca, Go Green,
daur ulang sampah , atau hal-hal lain yang berhubungan dengan lingkungan
sekitar. Misalnya jika lingkungan Madrasah dekat dengan daerah pantai, materi
tentang “hutan mangrove” mungkin akan lebih berguna, atau hal-hal lain yang
mungkin sedang berkembang sehingga guru merasa perlu menerapkannya dalam
pengembangan karakter lingkungan siswa. Beberapa isu lingkungan tersebut diuraikan dalam pembahasan berikut :
1. Global
Warming
Semua orang diseluruh dunia membicarakan masalah global warming. Film,topik talk show, lirik lagu sampai obrolan
sehari-hari, membahas soal global warming
. Sebenarnya lagi trend peduli lingkungan atau memang nyata? ( Majalah Girlfriend, edisi Mei 2011).
Global
warming atau pemanasan global adalah proses peningkatan
suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Dari hasil penelitian diketahui
kalau suhu bumi terus naik perlahan-lahan. Dan dari laporan yang dikeluarkan
IPPC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2001 disimpulkan bahwa
suhu udara secara global sudah meningkat 0,6 derajat celcius sejak 1861. Walau
dilihat angkanya kecil, tapi bisa dirasakan seberapa besar perubahannya di
bumi.
Perubahan tersebut dapat dilihat dari cuaca di
Indonesia yang berubah dibanding beberapa tahun lalu. Dan ini tidak hanya
terjadi di Indonesia, tapi di semua permukaan bumi. Musim panas dan musim hujan
kadang datangnya tidak pasti (kadang lebih cepat, kadang lebih lambat). Kalau
musim panas air kering dimana-mana. Sementara kalau musim hujan, banjir melanda
seluruh belahan dunia hingga menimbulkan korban jiwa. Bahkan hujan es jatuh di
wilayah yang bukan termasuk daerah empat musim.
Tidak usah mengambil
contoh di luar negeri, betapa dinginnnya kota Brastagi atau Prapat di tahun
1980-an dibanding sekarang. Atau kita bisa rasakan gerahnya udara sekarang
dibanding dulu, bedanya terasa jauh sekali. Di tahun 1980-an berita di media
menyebutkan betapa suburnya lahan pertanian di Pulau Jawa, tidak ada masalah
kesulitan air hingga padi mengering. Tapi lihat sekarang, sungai yang tadinya
jadi sumber air malah jadi tempat tinggal,
airnya ke mana? Pemanasan global disebabkan oleh berbagai faktor,tapi yang
paling utama adalah effek rumah kaca.
2. Effek
Rumah kaca
Effek rumah kaca adalah
tertahannya panas matahari yang dipantulkan oleh bumi di atmosfer (Achmad, R,
2004). Teorinya begini : sinar matahari yang masuk ke bumi sebagian diserap
untuk menghangatkan bumi (supaya bumi tidak beku), dan sebagian lagi
dipantulkan ke angkasa. Tapi, karena di
atmosfer terlalu banyak kandungan uap air, karbon dioksida dan metana sisa
panas tadi malah balik lagi memanasi bumi. Makanya bumi menjadi lebih panas.
Sebenarnya kalau kadar uap
air, karbon dioksida dan metana di atmosfer jumlahnya sesuai, justru berguna
buat bumi. Tapi kalau sudah kelebihan, jadinya malah merugikan. Karbon dioksida
dan metana yang berlebihan di atmosfer adalah akibat ulah manusia, mulai dari
hasil pembakaran kayu, limbah padat, sisa pembuangan bahan bakar yang
berlebihan membuat effek rumah kaca jadi tambah parah. Intinya, semua zat yang
ada di bumi dan atmosfernya sebetulnya dibutuhkan, tapi kalau jumlahnya tidak
seimbang akan menghasilkan effek negatif
buat bumi beserta seluruh isinya.
Termasuk manusia.
3. Go
Green At School
Untuk mengatasi masalah
yang disebutkan di atas yaitu global warming istilah “Go Green” digunakan untuk
hal-hal serius yang dilakukan untuk bumi kita
termasuk sekolah atau madrasah. Guru dapat menyarankan atau mengembang
kan hal-hal yang dapat dilakukan siswa. Diantaranya adalah :
a. Green
Transportation
Dengan mengingatkan untuk mengurangi polusi sebagai
penyebab meningkatnya effek rumah kaca, bersepeda atau jalan kaki bisa jadi
jadi cara yang pas buat yang jarak sekolahnya tidak jauh. Dengan jalan kaki
atau naik sepeda dapat mengurangi jejak
karbon diudara. Selain membantu mengurangi polusi, hitung-hitung sekalian olah
raga atau diet, kan?
Kalau sekolah jauh, lebih baik menggunakan kendaraan
umum dari pada membawa kendaraan sendiri, karena dapat mengurangi jumlah
kendaraan yang keluar ke jalanan. Otomatis, membantu mengurangi polusi.
b.
Antiplastik
Budaya menggunakan plastik memang sudah menjadi
kebiasaan. Plastik, sampah anorganik yang sukar mengurai, memerlukan waktu
bertahun-tahun, sehingga menjadi penyumbang polusi terbesar. Kita bisa
mengurangi plastik dengan membawa tempat makan sendiri. Kalaupun harus membeli
makanan di kantin, sediakan tempat makanan kosong yang di bawa dari rumah.
Dengan begitu juga mengurangi sampah di sekolah, kan?
Kalau memang harus menggunakan kantongan untuk
belanja usahakan gunakan yang bisa
dipakai dipakai berulang-ulang atau bisa dicuci,sehingga mengurangi
penggunaan plastik. Atau beberapa belanjaan yang bisa dijadikan satu, sehingga
tidak perlu menggunakan banyak plastik.
c.
School’s Green Ambassador
Menjadi duta hijau sekolah tidak harus yang
muluk-muluk, seperti harus berpidato di depan sekolah atau atau memaksa kawan-kawan
melakukan sesuatu untuk bumi. Cukup dengan mempraktekkan hidup hijau, kita bisa
mempengaruhi kawan-kawan untuk menjaga bumi di sekolah dan dimanapun kita
berada.
Lewat tulisan yang atau karya yang menghimbau
tentang lingkungan yang di pajang di mading juga bisa membuat kita menjadi duta hijau
sekolah. Tapi harus di mulai dari hal kecil saja, tidak mungkin kan kita bicara
ke teman-teman buat jaga bumi kalau kita sendiri masih suka buang sampah
sembarangan.
d.
Paper Saver.
Untuk memproduksi kertas, banyak pohon yang
berdiameter 15-20 meter dengan tinggi 40 meter harus di tebang. Bukan Cuma itu,
proses pengolahan kayu menjadi kertas di pabrik juga akan menghasilkan emisi
dan limbah, yang ujung-ujungnya mencemari lingkungan. Sebanyak 27.000 batang
kayu ditebang setiap hari untuk kemudian diproduksi jadi kertas. Bagaimana
hutan di dunia tidak gundul, kalau pohonnya terus menerus di tebang? Dampaknya
tidak main-main. Salah duanya adalah banjir dan global warming. Perlu juga untuk diketahui saat kertas membusuk
bersama sampah lainnya, akan terbentuk gas metana yang 25 kali lipat lebih
berbahaya dari gas karbondioksida (CO2).
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk hemat kertas
(paper saver), misalnya gunakan
kertas bolak-balik saat menulis, membuat laporan, kliping, fotocopy atau tugas sekolah lainnya. Dari pada
buang-buang kertas untuk menulis catatan singkat, manfaatkan saja fitur notes atau to-do-list di handphone.
Praktis dan efisien. Untuk apa memiliki teknologi dan alat canggih kalau tidak
dimanfaatkan. Kalau ada teman yang ulang tahun, dari pada beli kertas kado,
mending berkreasi menggunakan kertas dari majalah. Halaman pin-up seleb favorit teman yang sedang ultah dapat jadi pilihan.
Atau halaman lainnya yang menarik dapat dibuat pembungkus kado. Pasti kadonya
jadi menarik perhatian karena beda dengan lainnya. Selain itu kertas majalah
bekas juga bisa digunting buat dijadikan scrap
book, vas bunga dan frame foto. Begitu
juga pada setiap tahun ajaran, buku-buku catatan pada kelas sebelumnya coba diperiksa karena
pasti masih banyak halaman yang kosong. Kertas kosong tersebut dapat
dikumpulkan untuk dijilid menjadi buku baru dengan sedikit kreasi tentunya.
Nilai plusnya kita dapat menabung uang yang harusnya digunakan buat beli buku
tulis baru, kan.
e.
My Green Classroom
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk membuat
ruangan kelas yang bersahabat dengan lingkungan. Diantaranya bisa dengan
membuka tirai di kelas jika cuaca lagi cerah, tidak perlulah menggunakan lampu.
Jadi hemat listrik. Tidak Cuma lampu saja, jika udara sedang bagus kita bisa
mematikan AC atau kipas, dan buka jendela kelas.
Biar kelas tambah nyaman, di dalam kelas bisa
diletakkan satu atau dua tanaman hidup. Selain bisa membuat ruangan kelas
tambah segar dan indah, tanaman juga bisa membuat udara ruangan kelas bersih
dari karbondioksida. Pasti belajar jadi lebih oke.
4. Daur
ulang Sampah
Pada mata pelajaran tertentu
seperti IPA, seni budaya dan keterampilan, tentu banyak kompetensi yang
berhubungan dengan produk, atau kerajinan
yang harus dihasilkan siswa sebagaimana tuntutan kurikulum. Dalam hal
ini guru harus jeli agar produk-produk yang dihasilkan hendaknya berbasis
lingkungan. Disamping dapat mengurangi sampah, tentu saja diusahakan produk
tersebut harus bernilai seni dan diharapkan juga punya nilai jual. Sekolah atau
Madrasah dapat memamerkan produk tersebut dalam berbagai even yang tentunya
dapat membanggakan sekolah.
Guru dapat mengajak siswa
memilih bahan-bahan yang banyak terdapat di lingkungan sekitar yang sudah tidak
digunakan lagi seperti, bungkus makanan, deterjen, sisa kain, kardus atau kotak
bekas, kaleng minuman dan lain-lain yang
dapat dibuat berbagai produk yang bermanfaat. Tentu saja pengetahuan dan
keterampilan harus terus dikembangkan. Guru dan siswa dapat mengakses berbagai
info dan pengetahuan untuk mendapatkan berbagai ide kreatif penggunaan sampah,
bisa melalui berbagai bacaan seperti buku, tabloid, majalah atau situs internet
diantaranya www.recyclingnearyou.com.au.
C.
Implementasi
Karakter Lingkungan Dalam Pembelajaran
Karena karakter tentang lingkungan merupakan salah
satu karakter yang di isyaratkan dalam pendidikan karakter siswa, maka penerapan pendidikan karakter di madrasah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk
komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses
pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata
pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan
ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja
seluruh warga dan lingkungan sekolah. Lebih
lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang
dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu
membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku
guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru
bertoleransi, dan
berbagai hal terkait lainnya ((Team Kemdiknas, 2008).
Dengan
pengertian tentang pendidikan karakter tersebut jelaslah bahwa implementasi
karakter lingkungan di sekolah bisa sangat luas. Dalam sekop yang lebih kecil
guru tentunya lebih banyak terlibat dalam pembelajaran di kelas. Tapi tidak
menutup kemungkinan pembelajaran tersebut dapat
dilakukan juga di luar kelas seperti ketika guru terlibat dalam
aktivitas ko-kurikuler, ekstra kurikuler, bimbingan konseling, pengembangan
diri, serta pembiasan/keteladanan/pengkondisian.
Integrasi karakter lingkungan di dalam proses pembelajaran dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran pada semua mata pelajaran. Di antara
prinsip-prinsip yang dapat diadopsi dalam membuat perencanaan pembelajaran
(merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian dalam silabus, RPP, dan bahan
ajar), melaksanakan proses pembelajaran, dan evaluasi adalah prinsip-prinsip
pembelajaran kontekstual (Contextual
Teaching and Learning). Jadi meskipun mata pelajaran yang
standar kompetensi atau kompetensi dasarnya di kurikulum tidak mengisyaratkan materi tentang
pembelajaran lingkungan guru tetap bisa menginternalisasikan nilai-nilai
tentang lingkungan dalam proses pembelajaran. Apalagi mata pelajaran yang
memang kompetensi dasarnya menyangkut materi lingkungan, seperti IPA, IPS, Seni Budaya, dan Agama,
atau muatan lokal yang menetapkan
lingkungan hidup sebagai pilihannya. Contohnya pada mata pelajaran
bahasa (Indonesia, Inggris, Arab), jika KD atau materinya menulis, membaca atau
mendengar, rancanglah pembelajaran konteksnyanya tentang lingkungan. Jika tidak
memungkinkan sama sekali, minimal di kegiatan
pendahuluan, setelah mengucap salam bolehlah guru mengingatkan atau memotivasi siswa tentang nyamannya belajar jika kelas bersih
dan hijau.
Karakteristik pembelajaran kontekstual adalah berpusat pada siswa sehingga siswa
saling bekerja sama, saling menunjang, menyenangkan dan bergairah, siswa aktif
guru kreatif, dan lokasi belajar penuh informasi. Dalam proses pembelajaran
dapat dituangkan dalam kegiatan “pendahuluan, inti dan penutup”. Seperti yang
digambarkan dalam diagram berikut :
1.
Kegiatan Pendahuluan
Berdasarkan Standar Proses, pada kegiatan pendahuluan,
guru:
a.
menyiapkan
peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;
b.
mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang
akan dipelajari;
c.
menjelaskan
tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; dan
d.
menyampaikan
cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan
sesuai silabus.
Ada sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk
mengenalkan nilai, membangun kepedulian akan nilai, dan membantu internalisasi
nilai atau karakter lingkungan pada tahap pembelajaran ini. Berikut adalah beberapa
contoh :
a.
Setelah
mengucapkan salam atau berdo’a (jam pertama), guru dan siswa dapat menyepakati
mengucapkan yel-yel yang mungkin dapat membangkitkan semangat belajar yang
tentunya berhubungan dengan lingkungan, seperti : “ kelas bersih, nyaman, indah
dan siap untuk belajar! “
b.
Memastikan siswa
untuk memeriksa laci-laci meja, jika masih terdapat sampah, agar segera
membuang ke tempat sampah
c.
Mengur siswa
dengan sopan jika kelas masih kotor, atau mendapati bunga hidup di ruangan
kelas layu atau tidak dirawat.
d.
Mengaitkan materi/kompetensi yang akan dipelajari
dengan karakter lingkungan
(jika SK/KD nya sesuai)
e.
Dengan merujuk pada silabus, RPP, dan bahan ajar,
menyampaikan butir karakter yang hendak dikembangkan selain yang terkait dengan
SK/KD
2.
Kegiatan Inti
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Nomor 41 Tahun 2007, kegiatan inti pembelajaran terbagi atas tiga tahap, yaitu
eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa
pada tahap eksplorasi peserta didik difasilitasi untuk memperoleh pengetahuan
dan keterampilan dan mengembangkan sikap melalui kegiatan pembelajaran yang
berpusat pada siswa. Pada tahap elaborasi, peserta didik diberi peluang untuk
memperoleh pengetahuan dan keterampilan serta sikap lebih lanjut melalui
sumber-sumber dan kegiatan-kegiatan pembelajaran lainnya sehingga pengetahuan,
keterampilan, dan sikap peserta didik lebih luas dan dalam. Pada tahap
konfirmasi, peserta didik memperoleh umpan balik atas kebenaran, kelayakan,
atau keberterimaan dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperoleh oleh siswa (Kemdiknas, 2008).
Berikut beberapa ciri proses pembelajaran pada
tahap eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi yang potensial dapat membantu siswa
menginternalisasi nilai-nilai lingkungan:
a.
Eksplorasi
1)
Melibatkan
peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi
yang dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar
dari aneka sumber
2)
Menggunakan
beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain.
3) Memfasilitasi terjadinya interaksi antar
peserta didik serta antara peserta didik dengan guru,
lingkungan, dan sumber belajar lainnya.
4)
Melibatkan
peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran.
5) Memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di
laboratorium, studio, atau lapangan, dan mengingatkan
untuk bertanggung jawab terhadap kebersihan alat dan ruangan setelah bekerja.
b. Elaborasi
1) Membiasakan
peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu
yang bermakna.
2) Memfasilitasi
peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan
gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis.
3) Memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis,
menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut.
4) Memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif
dan kolaboratif.
5) Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat
untuk meningkatkan prestasi belajar.
6) Memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang
dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok.
7) Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja
individual maupun kelompok.
8) Memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen,
festival, serta produk yang dihasilkan.
9)
Memfasilitasi
peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya
diri peserta didik.
c.
Konfirmasi
1) Memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk
lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik.
2) Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan
elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber.
3) Memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk
memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan.
4) Memfasilitasi peserta didik untuk lebih jauh/dalam/luas
memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
3. 3. Kegiatan Penutup
Dalam kegiatan
penutup, guru:
- bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri
membuat rangkuman/simpulan pelajaran.
- melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan
yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram.
- memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.
- merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk
pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau
memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil
belajar peserta didik; dan
- menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan
berikutnya.
Ada beberapa hal lain yang perlu dilakukan oleh
guru untuk mendorong dipraktikkannya nilai-nilai. Pertama, guru harus merupakan
seorang model dalam karakter. Dari awal hingga akhir pelajaran, tutur kata,
sikap, dan perbuatan guru harus merupakan cerminan dari nilai-nilai karakter
yang hendak ditanamkannya.
Kedua, pemberian reward kepada siswa yang menunjukkan karakter yang dikehendaki dan
pemberian punishment kepada mereka
yang berperilaku dengan karakter yang tidak dikehendaki. Reward dan punishment
yang dimaksud dapat berupa ungkapan verbal dan non verbal, kartu ucapan selamat
(misalnya green classroom award) atau catatan peringatan, dan
sebagainya. Untuk itu guru harus menjadi pengamat yang baik bagi setiap
siswanya selama proses pembelajaran.
Ketiga, setiap kali guru memberi
umpan balik dan/atau penilaian kepada siswa, guru harus mulai dari aspek-aspek
positif atau sisi-sisi yang telah kuat/baik pada pendapat, karya, dan/atau
sikap siswa. Guru memulainya dengan memberi penghargaan pada hal-hal yang telah
baik dengan ungkapan verbal dan/atau non-verbal dan baru kemudian menunjukkan
kekurangan-kekurangannya dengan ‘hati’. Dengan cara ini sikap-sikap saling
menghargai dan menghormati, kritis, kreatif, percaya diri, santun, dan
sebagainya akan tumbuh subur.
D. Penutup
Peranan guru
dalam menginternalisasikan karakter lingkungan pada siswa meskipun kecil tapi
bisa bermanfaat besar bagi lingkungan. Mulai dari sekarang dan mulai dari diri
sendiri satu orang yang melakukan perubahan pasti ada efeknya, walaupun kecil.
Dan seperti effek domino, kalau satu yang sudah memulai pasti menular ke yang
lainnya. Tadinya effeknya kecil pasti bisa jadi besar juga. So, be the first in your home, neighborhood, and even in your school,
to start green living and figth global warming! You will inspire others.
( Penulis adalah guru MTsN 3 Medan, aktif dalam Green Teacher’s Indonesia)
Daftar Pustaka
Achmad R, (2004), Kimia Lingkungan, Yokyakarta, Andi Offset
Hamalik O, (2009), Proses Belajar Mengajar, Jakarta, Bumi Aksara
Majalah Girlfriend, Global Warming, Edisi Mei 2011
Team Kemendiknas, (2010), Pendidikan Karakter Untuk SMP,
Jakarta, Kemendiknas



