Halaman

Sabtu, 10 Agustus 2019



PERANAN GURU TERHADAP ISU LINGKUNGAN MELALUI  PEMBELAJARAN DI MADRASAH

Oleh : Dra. Khalida Agustina, M.Pd
 

Isu tentang lingkungan (Lingkungan Hidup) terutama kerusakannya sudah mendunia. Artinya selalu dibicarakan atau menjadi topik pembicaraan. Tetapi yang paling dominan dalam menyuarakan lingkungan, terutama tentunya adalah para pakar lingkungan, pemerintah yang yang membidangi lingkungan, LSM, masyarakat peduli lingkungan dan lain sebagainya. Tentu saja dalam hal ini isu lingkungan tersebut termasuk usaha dalam memelihara, mencegah dan memperbaiki kerusakannya. Lalu dimana peran guru? Yang seyogianya merupakan ujung tombak pendidikan. Bukankah akan sangat efektif mengembangkan karakter tentang lingkungan  melalui pendidikan?
 

A.       Pendahuluan
Penulis menggunakan kata “ isu lingkungan” pengganti kata lingkungan hidup agar menambah ketertarikan saja. Biasanya kalau kata “isu” di lihat atau didengar dapat menjadi magnet penarik, setidaknya dapat lirikan sedikitlah untuk tulisan ini terutama rekan-rekan guru pembaca majalah Pembina.
Peduli lingkungan hidup bagi guru bukanlah sekedar ikut-ikutan. Guru sebagai pendidik punya peran yang sangat efektif dalam menyuarakan tentang lingkungan. Selama ini mungkin guru terlibat dalam masalah isu lingkungan hanya sebatas pembaca atau pendengar melalui bacaan atau tontonan dimedia atau mengikuti seminar-seminar yang membahas tentang lingkungan. Sekarang sudah saatnya guru melangkah sedikit untuk berperan lebih aktif melalui action dalam pembelajaran terutama dilingkungan Madrasah.
Guru  Madrasah apapun jenis mata pelajarannya dapat menerapkan pendidikan lingkungan pada pembelaran ketika berinteraksi dengan siswa. Apalagi Pendidikan karakter yang wajib diterapkan dalam pembelajaran sangat mendukung hal ini, karena karakter tentang lingkungan menjadi bagian dalam pengembangan karakter siswa. Hanya saja perlu diingat, bahwa guru dalam membina karakter lingkungan siswa, harus bertindak sebagai model dalam karakter. Dari ujung kaki ke rambut, tutur kata, sikap, dan perbuatan guru harus merupakan cerminan dari nilai-nilai karakter yang hendak ditanamkannya.Seperti yang dikatakan Hamalik, O, (2001) bahwa mentransfer pengetahuan pada siswa mungkin mudah, tetapi membina siswa agar menjadi manusia berwatak (berkarakter) bukanlah hal yang mudah. Guru harus punya komitmen yang kuat betapa pentingnya masalah lingkungan bagi kehidupan. Guru juga perlu mempunyai pengetahuan yang memadai tentang isu lingkungan yang selalu Up To Date.  Mengembangkan karakter lingkungan pada siswa  tidak perlu yang terlalu rumit. Dengan tindakan kecil yang menjadi kebiasaan sehari-hari tapi rutin dapat menyumbang pencegahan kerusakan lingkungan. Dan yang yang lebih penting lagi guru selalu ikhlas dalam mendidik dan membina siswanya, tidak dengan paksaan atau marah-marah. Karena bagaimanapun mengubah karakter tidak semudah membalik telapak tangan, tapi harus terus menerus sehingga diharapkan dapat menjadi kebiasan yang baik.

  1.   B.    Ragam Isu Lingkungan
      Karakter lingkungan yang ingin dikembangkan pada siswa tentunya harus bertolak dari isu lingkungan yang sering dibicarakan seperti Global Warming, Effek rumah kaca, Go Green, daur ulang sampah , atau hal-hal lain yang berhubungan dengan lingkungan sekitar. Misalnya jika lingkungan Madrasah dekat dengan daerah pantai, materi tentang “hutan mangrove” mungkin akan lebih berguna, atau hal-hal lain yang mungkin sedang berkembang sehingga guru merasa perlu menerapkannya dalam pengembangan karakter lingkungan siswa. Beberapa isu lingkungan tersebut  diuraikan dalam pembahasan berikut :
1.      Global Warming
Semua orang diseluruh dunia membicarakan masalah global warming. Film,topik talk show, lirik lagu sampai obrolan sehari-hari, membahas soal global warming . Sebenarnya lagi trend peduli lingkungan atau memang nyata? ( Majalah Girlfriend, edisi Mei 2011).
Global warming atau pemanasan global adalah proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Dari hasil penelitian diketahui kalau suhu bumi terus naik perlahan-lahan. Dan dari laporan yang dikeluarkan IPPC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2001 disimpulkan bahwa suhu udara secara global sudah meningkat 0,6 derajat celcius sejak 1861. Walau dilihat angkanya kecil, tapi bisa dirasakan seberapa besar perubahannya di bumi.
Perubahan tersebut dapat dilihat dari cuaca di Indonesia yang berubah dibanding beberapa tahun lalu. Dan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi di semua permukaan bumi. Musim panas dan musim hujan kadang datangnya tidak pasti (kadang lebih cepat, kadang lebih lambat). Kalau musim panas air kering dimana-mana. Sementara kalau musim hujan, banjir melanda seluruh belahan dunia hingga menimbulkan korban jiwa. Bahkan hujan es jatuh di wilayah yang bukan termasuk daerah empat musim.
Tidak usah  mengambil contoh di luar negeri, betapa dinginnnya kota Brastagi atau Prapat di tahun 1980-an dibanding sekarang. Atau kita bisa rasakan gerahnya udara sekarang dibanding dulu, bedanya terasa jauh sekali. Di tahun 1980-an berita di media menyebutkan betapa suburnya lahan pertanian di Pulau Jawa, tidak ada masalah kesulitan air hingga padi mengering. Tapi lihat sekarang, sungai yang tadinya jadi sumber air malah  jadi tempat tinggal, airnya ke mana? Pemanasan global disebabkan oleh berbagai faktor,tapi yang paling utama adalah  effek rumah kaca.

2.      Effek Rumah kaca
      Effek rumah kaca adalah tertahannya panas matahari yang dipantulkan oleh bumi di atmosfer (Achmad, R, 2004). Teorinya begini : sinar matahari yang masuk ke bumi sebagian diserap untuk menghangatkan bumi (supaya bumi tidak beku), dan sebagian lagi dipantulkan  ke angkasa. Tapi, karena di atmosfer terlalu banyak kandungan uap air, karbon dioksida dan metana sisa panas tadi malah balik lagi memanasi bumi. Makanya bumi menjadi lebih panas.
      Sebenarnya kalau kadar uap air, karbon dioksida dan metana di atmosfer jumlahnya sesuai, justru berguna buat bumi. Tapi kalau sudah kelebihan, jadinya malah merugikan. Karbon dioksida dan metana yang berlebihan di atmosfer adalah akibat ulah manusia, mulai dari hasil pembakaran kayu, limbah padat, sisa pembuangan bahan bakar yang berlebihan membuat effek rumah kaca jadi tambah parah. Intinya, semua zat yang ada di bumi dan atmosfernya sebetulnya dibutuhkan, tapi kalau jumlahnya tidak seimbang akan menghasilkan  effek negatif  buat bumi beserta seluruh isinya. Termasuk manusia.

3.      Go Green At School
Untuk mengatasi masalah yang disebutkan di atas yaitu global warming istilah “Go Green” digunakan untuk hal-hal serius yang dilakukan untuk bumi kita  termasuk sekolah atau madrasah. Guru dapat menyarankan atau mengembang kan hal-hal yang dapat dilakukan siswa. Diantaranya adalah :
a.       Green Transportation
Dengan mengingatkan untuk mengurangi polusi sebagai penyebab meningkatnya effek rumah kaca, bersepeda atau jalan kaki bisa jadi jadi cara yang pas buat yang jarak sekolahnya tidak jauh. Dengan jalan kaki atau naik sepeda  dapat mengurangi jejak karbon diudara. Selain membantu mengurangi polusi, hitung-hitung sekalian olah raga atau diet, kan?
Kalau sekolah jauh, lebih baik menggunakan kendaraan umum dari pada membawa kendaraan sendiri, karena dapat mengurangi jumlah kendaraan yang keluar ke jalanan. Otomatis, membantu mengurangi polusi.
b.      Antiplastik
Budaya menggunakan plastik memang sudah menjadi kebiasaan. Plastik, sampah anorganik yang sukar mengurai, memerlukan waktu bertahun-tahun, sehingga menjadi penyumbang polusi terbesar. Kita bisa mengurangi plastik dengan membawa tempat makan sendiri. Kalaupun harus membeli makanan di kantin, sediakan tempat makanan kosong yang di bawa dari rumah. Dengan begitu juga mengurangi sampah di sekolah, kan?
Kalau memang harus menggunakan kantongan untuk belanja usahakan gunakan yang bisa  dipakai dipakai berulang-ulang atau bisa dicuci,sehingga mengurangi penggunaan plastik. Atau beberapa belanjaan yang bisa dijadikan satu, sehingga tidak perlu menggunakan banyak plastik.
c.       School’s Green Ambassador
Menjadi duta hijau sekolah tidak harus yang muluk-muluk, seperti harus berpidato di depan sekolah atau atau memaksa kawan-kawan melakukan sesuatu untuk bumi. Cukup dengan mempraktekkan hidup hijau, kita bisa mempengaruhi kawan-kawan untuk menjaga bumi di sekolah dan dimanapun kita berada.
Lewat tulisan yang atau karya yang menghimbau tentang lingkungan yang di pajang di mading  juga bisa membuat kita menjadi duta hijau sekolah. Tapi harus di mulai dari hal kecil saja, tidak mungkin kan kita bicara ke teman-teman buat jaga bumi kalau kita sendiri masih suka buang sampah sembarangan.
d.      Paper Saver.
Untuk memproduksi kertas, banyak pohon yang berdiameter 15-20 meter dengan tinggi 40 meter harus di tebang. Bukan Cuma itu, proses pengolahan kayu menjadi kertas di pabrik juga akan menghasilkan emisi dan limbah, yang ujung-ujungnya mencemari lingkungan. Sebanyak 27.000 batang kayu ditebang setiap hari untuk kemudian diproduksi jadi kertas. Bagaimana hutan di dunia tidak gundul, kalau pohonnya terus menerus di tebang? Dampaknya tidak main-main. Salah duanya adalah banjir dan global warming. Perlu juga untuk diketahui saat kertas membusuk bersama sampah lainnya, akan terbentuk gas metana yang 25 kali lipat lebih berbahaya dari gas karbondioksida (CO2).
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk hemat kertas (paper saver), misalnya gunakan kertas bolak-balik saat menulis, membuat laporan, kliping, fotocopy  atau tugas sekolah lainnya. Dari pada buang-buang kertas untuk menulis catatan singkat, manfaatkan saja fitur notes atau to-do-list di handphone. Praktis dan efisien. Untuk apa memiliki teknologi dan alat canggih kalau tidak dimanfaatkan. Kalau ada teman yang ulang tahun, dari pada beli kertas kado, mending berkreasi menggunakan kertas dari majalah. Halaman pin-up seleb favorit teman yang sedang ultah dapat jadi pilihan. Atau halaman lainnya yang menarik dapat dibuat pembungkus kado. Pasti kadonya jadi menarik perhatian karena beda dengan lainnya. Selain itu kertas majalah bekas juga bisa digunting buat dijadikan scrap book, vas bunga dan frame foto. Begitu juga pada setiap tahun ajaran, buku-buku catatan  pada kelas sebelumnya coba diperiksa karena pasti masih banyak halaman yang kosong. Kertas kosong tersebut dapat dikumpulkan untuk dijilid menjadi buku baru dengan sedikit kreasi tentunya. Nilai plusnya kita dapat menabung uang yang harusnya digunakan buat beli buku tulis baru, kan.
e.       My Green Classroom
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk membuat ruangan kelas yang bersahabat dengan lingkungan. Diantaranya bisa dengan membuka tirai di kelas jika cuaca lagi cerah, tidak perlulah menggunakan lampu. Jadi hemat listrik. Tidak Cuma lampu saja, jika udara sedang bagus kita bisa mematikan AC atau kipas, dan buka jendela kelas.
Biar kelas tambah nyaman, di dalam kelas bisa diletakkan satu atau dua tanaman hidup. Selain bisa membuat ruangan kelas tambah segar dan indah, tanaman juga bisa membuat udara ruangan kelas bersih dari karbondioksida. Pasti belajar jadi lebih oke.

4.   Daur ulang Sampah
     Pada mata pelajaran tertentu seperti IPA, seni budaya dan keterampilan, tentu banyak kompetensi yang berhubungan dengan produk, atau kerajinan  yang harus dihasilkan siswa sebagaimana tuntutan kurikulum. Dalam hal ini guru harus jeli agar produk-produk yang dihasilkan hendaknya berbasis lingkungan. Disamping dapat mengurangi sampah, tentu saja diusahakan produk tersebut harus bernilai seni dan diharapkan juga punya nilai jual. Sekolah atau Madrasah dapat memamerkan produk tersebut dalam berbagai even yang tentunya dapat membanggakan sekolah.
     Guru dapat mengajak siswa memilih bahan-bahan yang banyak terdapat di lingkungan sekitar yang sudah tidak digunakan lagi seperti, bungkus makanan, deterjen, sisa kain, kardus atau kotak bekas, kaleng minuman dan lain-lain  yang dapat dibuat berbagai produk yang bermanfaat. Tentu saja pengetahuan dan keterampilan harus terus dikembangkan. Guru dan siswa dapat mengakses berbagai info dan pengetahuan untuk mendapatkan berbagai ide kreatif penggunaan sampah, bisa melalui berbagai bacaan seperti buku, tabloid, majalah atau situs internet diantaranya www.recyclingnearyou.com.au.

C.     Implementasi Karakter Lingkungan Dalam Pembelajaran
Karena karakter tentang lingkungan merupakan salah satu karakter yang di isyaratkan dalam pendidikan  karakter siswa,  maka penerapan pendidikan karakter di madrasah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya ((Team Kemdiknas, 2008).
Dengan pengertian tentang pendidikan karakter tersebut jelaslah bahwa implementasi karakter lingkungan di sekolah bisa sangat luas. Dalam sekop yang lebih kecil guru tentunya lebih banyak terlibat dalam pembelajaran di kelas. Tapi tidak menutup kemungkinan pembelajaran tersebut dapat  dilakukan juga di luar kelas seperti ketika guru terlibat dalam aktivitas ko-kurikuler, ekstra kurikuler, bimbingan konseling, pengembangan diri, serta pembiasan/keteladanan/pengkondisian.
Integrasi karakter lingkungan di dalam proses pembelajaran dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran pada semua mata pelajaran. Di antara prinsip-prinsip yang dapat diadopsi dalam membuat perencanaan pembelajaran (merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian dalam silabus, RPP, dan bahan ajar), melaksanakan proses pembelajaran, dan evaluasi adalah prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jadi meskipun mata pelajaran yang standar kompetensi atau kompetensi dasarnya  di kurikulum tidak mengisyaratkan materi tentang pembelajaran lingkungan guru tetap bisa menginternalisasikan nilai-nilai tentang lingkungan dalam proses pembelajaran. Apalagi mata pelajaran yang memang kompetensi dasarnya menyangkut materi lingkungan,  seperti IPA, IPS, Seni Budaya, dan Agama, atau muatan lokal yang menetapkan  lingkungan hidup sebagai pilihannya. Contohnya pada mata pelajaran bahasa (Indonesia, Inggris, Arab), jika KD atau materinya menulis, membaca atau mendengar, rancanglah pembelajaran konteksnyanya tentang lingkungan. Jika tidak memungkinkan sama sekali, minimal di kegiatan  pendahuluan, setelah mengucap salam bolehlah guru  mengingatkan atau memotivasi siswa  tentang nyamannya belajar jika kelas bersih dan hijau.
 Karakteristik pembelajaran kontekstual  adalah berpusat pada siswa sehingga siswa saling bekerja sama, saling menunjang, menyenangkan dan bergairah, siswa aktif guru kreatif, dan lokasi belajar penuh informasi. Dalam proses pembelajaran dapat dituangkan dalam kegiatan “pendahuluan, inti dan penutup”. Seperti yang digambarkan dalam diagram berikut :

Diagram pelaksanaan karakter melalui pelaksanaan pembelajaran


1.   Kegiatan Pendahuluan
Berdasarkan Standar Proses, pada kegiatan pendahuluan, guru:
a.          menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;
b.         mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari;
c.          menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; dan
d.         menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian  kegiatan sesuai silabus.
Ada sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk mengenalkan nilai, membangun kepedulian akan nilai, dan membantu internalisasi nilai atau karakter lingkungan pada tahap pembelajaran  ini. Berikut adalah beberapa contoh :
a.       Setelah mengucapkan salam atau berdo’a (jam pertama), guru dan siswa dapat menyepakati mengucapkan yel-yel yang mungkin dapat membangkitkan semangat belajar yang tentunya berhubungan dengan lingkungan, seperti : “ kelas bersih, nyaman, indah dan siap untuk belajar! “
b.      Memastikan siswa untuk memeriksa laci-laci meja, jika masih terdapat sampah, agar segera membuang ke tempat sampah
c.       Mengur siswa dengan sopan jika kelas masih kotor, atau mendapati bunga hidup di ruangan kelas layu atau tidak dirawat.
d.      Mengaitkan materi/kompetensi yang akan dipelajari dengan karakter lingkungan (jika SK/KD nya sesuai)
e.       Dengan merujuk pada silabus, RPP, dan bahan ajar, menyampaikan butir karakter yang hendak dikembangkan selain yang terkait dengan SK/KD
2.      Kegiatan Inti
      Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007, kegiatan inti pembelajaran terbagi atas tiga tahap, yaitu eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pada tahap eksplorasi peserta didik difasilitasi untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dan mengembangkan sikap melalui kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pada tahap elaborasi, peserta didik diberi peluang untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan serta sikap lebih lanjut melalui sumber-sumber dan kegiatan-kegiatan pembelajaran lainnya sehingga pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik lebih luas dan dalam. Pada tahap konfirmasi, peserta didik memperoleh umpan balik atas kebenaran, kelayakan, atau keberterimaan dari pengetahuan, keterampilan, dan  sikap yang diperoleh oleh siswa (Kemdiknas, 2008).
      Berikut beberapa ciri proses pembelajaran pada tahap eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi yang potensial dapat membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai lingkungan:
a.       Eksplorasi
1)         Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema   materi yang dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber
2)         Menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain.
3)      Memfasilitasi terjadinya interaksi antar peserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya.
4)         Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan  pembelajaran.
5)      Memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan, dan mengingatkan untuk bertanggung jawab terhadap kebersihan alat dan ruangan setelah bekerja.

           b. Elaborasi
1)       Membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna.
2)  Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis.
3)      Memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut.
4)      Memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif.
5)      Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar.
6)    Memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok.
7)      Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok.
8)  Memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan.
9)      Memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.

c.       Konfirmasi
1)      Memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik.
2)      Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber.
3)      Memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan.
4) Memfasilitasi peserta didik untuk lebih jauh/dalam/luas memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

  3.                 3.  Kegiatan Penutup
Dalam kegiatan penutup, guru:
  1. bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran.
  2. melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram.
  3. memberikan  umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.
  4. merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik; dan
  5. menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

      Ada beberapa hal lain yang perlu dilakukan oleh guru untuk mendorong dipraktikkannya nilai-nilai. Pertama, guru harus merupakan seorang model dalam karakter. Dari awal hingga akhir pelajaran, tutur kata, sikap, dan perbuatan guru harus merupakan cerminan dari nilai-nilai karakter yang hendak ditanamkannya.
      Kedua, pemberian reward kepada siswa yang menunjukkan karakter yang dikehendaki dan pemberian punishment kepada mereka yang berperilaku dengan karakter yang tidak dikehendaki. Reward dan punishment yang dimaksud dapat berupa ungkapan verbal dan non verbal, kartu ucapan selamat (misalnya green classroom award) atau catatan peringatan, dan sebagainya. Untuk itu guru harus menjadi pengamat yang baik bagi setiap siswanya selama proses pembelajaran.
            Ketiga, setiap kali guru memberi umpan balik dan/atau penilaian kepada siswa, guru harus mulai dari aspek-aspek positif atau sisi-sisi yang telah kuat/baik pada pendapat, karya, dan/atau sikap siswa. Guru memulainya dengan memberi penghargaan pada hal-hal yang telah baik dengan ungkapan verbal dan/atau non-verbal dan baru kemudian menunjukkan kekurangan-kekurangannya dengan ‘hati’. Dengan cara ini sikap-sikap saling menghargai dan menghormati, kritis, kreatif, percaya diri, santun, dan sebagainya akan tumbuh subur.

D.    Penutup
Peranan guru dalam menginternalisasikan karakter lingkungan pada siswa meskipun kecil tapi bisa bermanfaat besar bagi lingkungan. Mulai dari sekarang dan mulai dari diri sendiri satu orang yang melakukan perubahan pasti ada efeknya, walaupun kecil. Dan seperti effek domino, kalau satu yang sudah memulai pasti menular ke yang lainnya. Tadinya effeknya kecil pasti bisa jadi besar juga. So, be the first in your  home, neighborhood, and even in  your  school,  to start green living and  figth global warming! You will inspire others.
( Penulis adalah guru MTsN 3 Medan, aktif dalam Green Teacher’s Indonesia)

Daftar Pustaka
Achmad R, (2004), Kimia Lingkungan, Yokyakarta, Andi Offset
Hamalik O, (2009), Proses Belajar Mengajar, Jakarta, Bumi Aksara
Majalah Girlfriend, Global Warming, Edisi Mei 2011
Team Kemendiknas, (2010), Pendidikan Karakter Untuk SMP, Jakarta, Kemendiknas
http;//www.recyclingnearyou.com.au.Global Warming, diakses tanggal 14 Maret 2012









           
           

           



                       





Sabtu, 13 April 2019


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
REVISI 2017
(Disusun Berdasarkan Permendikbud Nomor: 22 Tahun 2016)


Satuan Pendidikan      :  SD/MI
Kelas / Semester        :  4 /2
Tema                           :  6. Cita-citaku
Sub Tema                   :  1. Aku dan Cita-citaku
Muatan Terpadu         :  Matematika, IPA
Pembelajaran ke        :  1
Alokasi waktu             :  -


A.   KOMPETENSI INTI
  1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
  2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru dan tetangga.
  3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar, melihat, membaca) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah.
  4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.

B.   KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENS
Matematika
Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaian Kompetensi
Siswa mampu:
3.7 Menjelaskan dan melakukan pembulatan hasil pengukuran panjang dan berat ke satuan terdekat

4.7 Menyelesaikan masalah pembulatan hasil pengukuran panjang dan berat ke satuan terdekat



·      Mengidentifikasi cara pembulatan kebawah, contoh: 12,4 cm dibulatkan menjadi 12 cm dan 24,7 kg dibulatkan menjadi 25 kg
·      Mengidentifikasi cara pembulatan ke atas, contoh: 12,6 cm dibulatkan menjadi 13 cm; 28,9 kg dibulatkan menjadi 29 kg
·      Mengukur benda-benda di sekitar kelas atau sekolah menggunakan alat ukur seperti meteran, timbangan dan melakukan pembulatan pada hasil pengukurannya
·      Menyelesaikan permasalahan yang melibatkan pembulatan
·      Menyajikan penyelesaian permasalahan yang melibatkan pembulatan






IPA
Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaian Kompetensi
3.2.
Membandingkan siklus hidup beberapa jenis makhluk hidup serta mengaitkan dengan upaya pelestariannya.
3.2.1.
mengidentifikasi siklus makhluk hidup yang ada di sekitarnya dengan baik.
4.2.

Membuat skema siklus hidup beberapa jenis makhluk hidup yang ada di lingkungan sekitarnya, dan slogan upaya pelestariannya.
4.2.1.
membuat skema siklus makhluk hidup yang ada di sekitarnya dengan benar.
C.   TUJUAN
1.    Mengidentifikasi cara pembulatan kebawah, contoh: 12,4 cm dibulatkan menjadi 12 cm dan 24,7 kg dibulatkan menjadi 25 kg
2.    Mengidentifikasi cara pembulatan ke atas, contoh: 12,6 cm dibulatkan menjadi 13 cm; 28,9 kg dibulatkan menjadi 29 kg
3.    Mengukur benda-benda di sekitar kelas atau sekolah menggunakan alat ukur seperti meteran, timbangan dan melakukan pembulatan pada hasil pengukurannya
4.    Menyelesaikan permasalahan yang melibatkan pembulatan
5.    Menyajikan penyelesaian permasalahan yang melibatkan pembulatan
6.    Melalui kegiatan  melakukan pengamatan, siswa mampu mengidentifikasi siklus makhluk hidup yang ada di sekitarnya dengan baik.
7.    Melalui kegiatan menyusun gambar tahapan pertumbuhan hewan dan tumbuhan, siswa mampu membuat skema siklus makhluk hidup yang ada di sekitarnya dengan benar.

D.   MATERI
  1. Pembulatan dan Penaksiran
  2. Siklus makhluk hidup


E.    PENDEKATAN & METODE
       Pendekatan          : Scientific
Strategi                : Cooperative Learning
Teknik                  : Example Non Example
Metode                 : Penugasan, pengamatan, Tanya Jawab, Diskusi dan Ceramah

F.    KEGIATAN  PEMBELAJARAN

Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Alokasi
Waktu
Pembukaan
1.    Guru memberikan salam
2.    Kelas dilanjutkan dengan do’a dipimpin oleh salah seorang siswa. Siswa yang diminta membaca do’a adalah siswa siswa yang hari ini datang paling awal. (Menghargai kedisiplikan siswa/PPK).
3.    Siswa diingatkan untuk selalu mengutamakan sikap disiplin setiap saat dan menfaatnya bagi tercapainya sita-cita.
4.    Menyanyikan lagu Garuda Pancasila atau lagu nasional lainnya. Guru memberikan penguatan tentang pentingnya menanamkan semangat Nasionalisme.
5.    Pembiasaan membaca 15 menit dimulai dengan guru menceritakan tentang kisah masa kecil salah satu tokoh dunia, kesehatan, kebersihan, makanan/minuman sehat , cerita inspirasi dan motivasi . Sebelum membacakan buku guru menjelaskan tujuan kegiatan literasi dan mengajak siswa mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut:
·         Apa yang tergambar pada sampul buku.
·         Apa judul buku
·         Kira-kira ini menceritakan tentang apa
·         Pernahkan kamu membaca judul buku seperti ini
6.    Melakukan komunikasi  tentang kehadiran siswa.
7.    Mengajak berdinamika dengan tepuk kompak dan lagu yang relevan.
8.    Guru menyiapkan fisik dan psikhis anak dalam mengawali kegiatan pembelajaran serta menyapa anak.
9.    Menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini.
10 menit
Inti
·         Pembiasaan membaca 15 menit dimulai dengan guru menceritakan tentang kisah masa kecil salah satu tokoh dunia / agama ( Misal : Ibnu Sina, Isaac Newton , nabi dan rasul, orang orang soleh dll).

·         Sebelum membacakan buku, guru menjelaskan tujuan kegiatan literasi dan mengajak siswa mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut:
-       apa yang tergambar pada sampul buku?
-       apa judulbuku?
-       kira-kira buku ini menceritakan apa?
-       pernahkah kamu membaca judul seperti itu?
-       apa saja yang kamu ingin ketahui dari buku ini?
·         Guru  membacakan cerita pada buku dan  menunjukkan ekspresi dan intonasi yang sesuai. Siswa menyimak dengan seksama.
·         Setelah guru membacakan buku, siswa diminta menuliskan kesimpulan / ringkasan cerita pada selembar kertas berwarna.
·         Menyegarkan suasana kembali dengan menyanyikan salah satu lagu anak-anak.
·         Berikan penguatan bahwa cita – cita, apapun itu harus di capai dengan kerja keras.

·         Peserta didik diberi motivasi atau rangsangan untuk memusatkan perhatian pada topik materi :PEMBULATAN HASIL PENGUKURAN KE SATUANdengan cara :
Ø  Melihat (tanpa atau dengan Alat)
Menayangkan gambar/foto/video yang relevan
Ø  Mengamati
Lembar kerja materi :PEMBULATAN HASIL PENGUKURAN KE SATUAN
pemberian contoh-contoh materi :PEMBULATAN HASIL PENGUKURAN KE SATUANuntuk dapat dikembangkan peserta didik, dari media interaktif, dsb
Ø  Membaca.
Kegiatan literasi ini dilakukan di rumah dan di sekolah dengan membaca materi dari buku paket atau buku-buku penunjang lain, dari internet/materi yang berhubungan dengan :PEMBULATAN HASIL PENGUKURAN KE SATUAN



Ø  Menulis
Menulis resume dari hasil pengamatan dan bacaan terkait :PEMBULATAN HASIL PENGUKURAN KE SATUAN
Ø  Mendengar
Pemberian materi :PEMBULATAN HASIL PENGUKURAN KE SATUANoleh guru
Ø  Menyimak
Penjelasan pengantar kegiatan secara garis besar/global tentang materi pelajaran mengenai materi :
:PEMBULATAN HASIL PENGUKURAN KE SATUAN
·         Siswa diajak untuk melatih rasa syukur, kesungguhan dan kedisiplinan, ketelitian, mencari informasi
·         Siswa mempertunjukkan hasil kerja kelompoknya untuk menarikan tari hasil kreasi kelompok yang merupakan kreasi dari daerah di Indonesia. Siswa berlatih kembali beberapa gerakan hasil kreasinya dengan mengikuti irama dan ketukan dari musik pengiring tarian tersebut. Siswa bekerja sama dengan kelompoknya agar menghasilkan harmoni yang indah
1.    Siswa dan guru merayakan kegiatan pembelajaran dengan bernyanyi dan bermain peranemahami teks informasi tentang cita-cita mulia menjadi seorang dokter hewan. Dengan bimbingan guru, siswa membahas tentang  profesi menjadi seorang dokter hewan serta tugas-tugas seorang dokter hewan.
Guru dapat memberikan pertanyaan:
  • Adakah di antara kalian yang bercita-cita menjadi dokter hewan?
  • Apakah tugas utama seorang dokter hewan?


Ayo Mengamati
1.    Siswa mengamati beberapa gambar hewan peliharaan yang terdapat pada halaman 6. Siswa mengamati gambar anak-anak hewan dan hewan yang sudah dewasa. Dengan bimbingan guru, siswa lalu mendiskusikan bagaimana hewan-hewan tersebut mengalami pertumbuhan.
Guru dapat memberikan pertanyaan:
·         Apakah kalian memiliki hewan peliharaan?
·         Apakah hewan peliharaanmu mempunyai anak?
·         Bagaimanakah tahapan-tahapan pertumbuh  an hewan yang kamu ketahui?


Ayo Berdiskusi
1.    Bentuklah kelompok yang terdiri atas 3-4 siswa. Secara berkelompok siswa mengamati beberapa gambar tahapan pertumbuhan hewan yang terdapat pada halaman 8. Siswa lalu menyusun gambar-gambar tahapan pertumbuhan hewan tersebut menjadi tahapan pertumbuhan hewan yang benar. Setiap kelompok kemudian berdiskusi dan menuliskan kesimpulan hasil diskusinya tentang tahapan pertumbuhan hewan tersebut pada kolom yang terdapat pada halaman 9. Setiap kelompok mempresentasikan hasil kesimpulannya di depan kelas.
150 menit
















Penutup
A.   Ayo Renungkan
·         Sikap apakah yang perlu dibangun untuk menentukan cita-citamu?
·         Manfaat apakah yang dapat kamu berikan kepada orang lain dengan menggapai cita-citamu?
·         Sikap apakah yang perlu ditunjukkan untuk memelihara hewan peliharaan?
Sebagai kegiatan penutup, guru memimpin diskusi kelas dan membantu siswa dalam membuat kesimpulan besar tentang kegiatan-kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan pada hari tersebut. Siswa diminta untuk merefleksikan:
·         Sikap apa saja yang perlu mereka bangun dalam menggapai cita-cita.
·         Manfaat apa yang akan mereka berikan kepada orang lain dengan cita-cita yang mereka miliki tersebut.
Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap makhluk hidup yang ada disekitarnya, sikap apa saja yang perlu ditunjukkan dalam memelihara hewan peliharaan.

B.   Kerja Sama dengan Orang Tua
Siswa mengamati hewan-hewan peliharaan yang ada di sekitar rumahnya, siswa bersama dengan orang tuanya di rumah berdiskusi tentang tahapan-tahapan pertumbuhan yang terjadi pada hewan-hewan tersebut.

C.   Salam dan do’a penutup.
15 menit



G.   SUMBER DAN  MEDIA
  1. Buku Pedoman Guru Tema 6 Kelas 4 dan Buku Siswa Tema 6 Kelas 4 (Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017).
  2. Buku Sekolahnya Manusia, Munif Chatib.
  3. Video/slide.
  4. Gambar hewan dan tumbuhan,
  5. Contoh-contoh puisi.
  6. Lingkungan sekitar.

H.   PENILAIAN
Penilaian terhadap proses dan hasil pembelajaran dilakukan oleh guru untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik. Hasil penilaian digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar dan memperbaiki proses pembelajaran. Penilaian terhadap materi ini dapat dilakukan  sesuai kebutuhan guru yaitu dari pengamatan sikap, tes pengetahuan  dan presentasi unjuk kerja atau hasil karya/projek dengan rubric penilaian sebagai berikut.
1.    Membuat Kesimpulan dari Pengamatan dan Diskusi
Bentuk penilaian: Penugasan
Instrumen Penilaian: rubrik 
KD Matematika 3.6 dan 4.6

Tujuan Kegiatan Penilaian: 
·         Mengukur pengetahuan siswa dalam mengidentifikasi pembulatan hasil pengukuran

Aspek
Sangat Baik
Baik
Cukup
Perlu Pendampingan
4
3
2
1
Mengetahui tentang pembulatan hasil pengukuran kesatuan
Mampu membulatkan kesatuan
Mampu menuliskan dengan benar angka terkecil hingga besar
Mampu mencoba pengukuran pada suatu objek
Mampu menyebutkan nilai satuan









Mengetahui
Kepala Sekolah SD/MI
NO 102066 Sintanauli





HUSAIRI, S.Pd
NIP. 19701121 199305 1 001
Sintanauli,
Guru Kelas 4,






ERISA PARHUSIP




PERANAN GURU TERHADAP ISU LINGKUNGAN MELALUI   PEMBELAJARAN DI MADRASAH Oleh : Dra. Khalida Agustina, M.Pd ...